Pertama kali saya
menginjakkan kaki di universitas hasanuddin, saya merasakan sesuatu yang sangat
membanggakan hati. Saya berada di salah satu kampus ternama di Indonesia.
Ditambah dengan iming-iming UKT yang hanya sekali bayar, saya rasa inilah
universitas yang terbaik karna memudahkan para mahasiswa dalam kuliah. Hari
pertama kami dikumpulkan di baruga di perkenalkan dengan system pembayaran yang
berlaku di unhas yaitu sistem UKT yang dimana semuanya itu hanya sekali bayar
dan tidak akan ada lagi pembayaran selain itu. Hari kedua pun sama, kami di
jelaskan ulang mengenai UKT di fakultas. Pengumuman Bidikmisi sangat membuat
saya berbahagia karna saya merupakan salah satu mahasiswa yang berhasil lulus
dari seleksi. Padahal saya rasa masih banyak orang di luar sana yang lebih
membutuhkan daripada saya.
Dengan adanya bidikmisi saya merasa
ada lagi motivasiku untuk kuliah dan terus berusaha menjadi lebih baik. Orang
tua merupakan hal pertama yang membuat saya termotivasi kemudian orang-orang
yang aku sayangi. Lingkungan yang cukup mendukung dan motivasi dari para senior
sekaligus teman angkatan untuk terus menjadi lebih baik. Hidup memang susah,
hidup memang sulit. Namun, hidup pasti akan kembali kepada-Nya. Saya kini
mendedikasikan hidup untuk berbakti kepada tuhan, tapi entah tuhan mana yang
harus aku percaya.
Seiring waktu berjalan, UKT yang
dijanjikan tidak sesuai dengan kenyataan. UKT hanyalah sebuah system yang
membuat kantong para birokrasi tambah tebal. Mahasiswa yang harusnya hanya
tinggal belajar kini tidak tenang dengan adanya uang lab, alat lab dan buku
diktat, bahkan ada sebagian dosen pengampu yang mewajibkan kita untuk membeli
buku diktat, jika tidak maka nilai yang keluar akan error. Saya rasa ada sesuatu
yang mengganjal terhadap pengadaan UKT. System UKT merupakan system yang tepat
untuk memberikan rasa simpati mahasiswa ke mahasiswa yang lain. Saling membantu
dan saling melengkapi untuk membentuk pribadi yang lebih mulia dan lebih baik
untuk masa depan.
Bidikmisi merupakan bantuan bagi
para mahasiswa yang kurang miskin. Bidikmisi hanyalah alat yang digunakan oleh
para birokrasi untuk mempertebal kantong-kantong mereka. Sebagian mahasiswa
yang penerima bidikmisi mungkin sudah tepat namun sebagian yang lain masih
tidak tepat karna masih banyak orang yang memalsukan data hanya untuk
mendapatkan uang dari bidikmisi.
Pembagian
golongan UKT merupakan hal yang lumrah namun ada yang menyalah gunakan
pembagian ini sehingga tidak merata. Golongan 1 dan 2 hanya disiapkan sekitar
5% saja.
oleh:
Jundullah (MIPA 2014)







0 komentar:
Posting Komentar