Alkisah, ada seorang mahasiswa di sebuah kampus kenamaan di Indonesia Timur namun berasal dari sebuah kampung yang cukup terpencil (bayangkan saja kawan untuk ke kampungnya dia harus melintasi jalan pengerasan selama sehari semalam. Untung dikampunya ada signal handphone..). Betapa bahagianya orang tuanya, yang merupakan tuan tanah besar dikampungnya, mengetahui anak satu-satunya berhasil tembus di Universitas di kota tersebut. Dibangga-banggakannya anaknya dihadapan petani pekerjanya. “coba ko lihat itu anakku. Di kota ki lampa’ kuliah. Itu karena pintar ki”, katanya dengan bangga dan berapi-api. Begitulah sehari-hari dia bercerita dengan bangga soal keberhasian anaknya. Dibelakangnya pun, para petani pekerjanya pun turut memuji anak karaeng-nya itu. “cara’de’ memang tong ntu ana’ na karaenGa”[1], kata salah seorang dari pekerjanya. “katte ero’ tong k’ passikola ana’ ku ri kota iyya, mingka tena doe’ ku. Kajjala’ dudu’I bela”[2], kata yang lainnya. Begitulah kisah itu berlanjut, tersebar sampai ke seluruh penjuru desa. Si anak karaeng jadi idola dikalangan masyarakat terutama anak-anak gadis.
***
Seberapa lama kemudian, setelah
pengumuman kelulusan si anak menghubungi orang tuanya di kampong via handppne.
Anak: Bapak, sareya doe ta’ rong. ka eroka bayara UKT[3]
Bapak: apa seng nikana UKT?[4]
Anak: Uang Kuliah Tunggal, singgkamma ji SPP. Tapi ntu mami ri bayara’.[5]
Bapak: tayang mi nak ku kirimi ko. Siapa kah???[6]
Anak: 4 juta…
Bapak: anngapa na kajjala’ kamma.[7]
Anak: ka le'ba memangmi ni bage-bage bapak menurut jama-jamanna tau toaya bapak[8}
Bapak: acececececehh. Tayang mi pale.[9]
Si bapak gusar dengan pembayaran
anaknya. Menurut si anak, pembagian ini berdasar tingkat pendapatan orang tua. “anggapa punna sikola tawwa nia nikana
kalumangnyang na kasiasi”[10], kata si bapak tidak habis pikir.
***
Betapa senang si anak menghadapi
perkuliahan di kota. Begitu banyak hal baru yang dia dapatkan. Teman baru,
suasana baru, sampai dengan budaya dan kebiasaan baru. Namun, batu sandungan
diterimanya tak lama kemudian saat dia harus memasuki laboratorium. Dengan berbagai
dalih, para mahasiswa baru dimintai beberapa pembayaran dalam bentuk pembelian
buku penuntun praktikum, buku respon, dan buku TP. Karena ini berada diluar
dugaan si anak sehingga tidak masuk dalam penganggaran uang kiriman bulanan
dari ayahnya. Maka dengan alasan ini kembali dihubunginya sang ayah di kampong walau
dengan berat hati. “angapana nia injapa
ni bayara?? Ku kana tenamo?? Ka battu mi ri bayara’ UKT”[11], kata
si bapak kesal. Maka, si anak langsung menjelaskan bahwa mereka diwajibkan
membeli beberapa perlengkapan untuk bisa masuk laboratorium sebab itu tidak
masuk dalam UKT. “tayang mi ku kirimi ko. Teai Uang Kuliah Tunggal anjo kapanjanganna UKT, tapi Uang Kuliah Terus” [12],
jawab sang ayah sambil menutup handphone-nya
tana menunggu ucapan salam dari anaknya. Sementara sang anak duduk termenung
didepan ruang laboratoriumnya.
tHe eND
Oleh: Surachman B
(Anggota Pers-Ma SINTESIS FMIPA Unhas)
(Anggota Pers-Ma SINTESIS FMIPA Unhas)
Keterangan:
[1] : pintar memang anaknya karaeng/tuan
[2] : saya mau juga sekolahkan anakku di kota. Tapi tidak ada
uangku. Mahal sekali.
[3] : bapak, kasikan uang ta bayar UKT
[4] : apa lagi di bilang UKT?
[5] : Uang Kuliah Tunggal. Sama dengan SPP tapi sisa ituyang
dibayar
[6] : tunggu nak, saya kirimi. Berapa?
[7] : kenapa mahal sekali
[8] : begitu memang pembagiannya bapak
[9] : acecececeh. Tunggu kalau begitu.
[10] : kenapa biar sekolah juga sudah kenal kaya dan miskin
[11] : kenapa ada lagi mau dibayar? Saya kira sudah tidak ada
lagi yang mau dibayar?
[12] : tunggu saya kirimi. Bukan Uang Kuliah Tunggal itu
kepanjangannya UKT, tapi Uang Kuliah Terus.







ececececececehhhhh......... tena mo harapan,......
BalasHapus