Antroposentris. Suatu pandangan,
bahwa manusia adalah pusat dan tujuan alam semesta. Tapi rasanya saya kurang sependapat
dengan konsep ini.
Manusia adalah pemimpin atau
khalifah di bumi, begitu yang kita amini bersama seperti yang jelas tertulis
dalam kitab suci. Jika akal pendek kita bernalar, manusia benar adalah makhluk
inti dari penciptaan semua ini, ya penciptaan alam semesta. Tapi apakah benar
bahwa semesta ini diciptakan untuk sebagian besar tubuhnya diabdikan kepada
manusia? Apa iya alam semesta ada sebagai penopang hidup manusia?
Alam semesta selalu memberikan
dan menyiapkan semua kebutuhan manusia. Jika diibaratkan manusia dan alam
semesta adalah dua orang kawan, kurang total apalagi si alam semesta kepada si
manusia? Tapi sayangnya, si manusia menjadi semakin egois. Dia terlalu sibuk
meminjam barang-barang milik si alam semesta, lantas makin sibuk mempercantik
diri. Sedangkan si alam semesta makin hari makin terabaikan dan menjadi dekil,
lalu hampir menjadi buruk rupa. Suatu analogi yang aneh.
Mahatma Ghandi pernah berkata,
“dunia ini cukup untuk mensejahterakan seluruh manusia namun tidak akan cukup
bagi satu orang yang serakah”. Keadaan lingkungan semakin memprihatinkan. Di
satu sisi, hidup manusia semakin mudah melalui eksploitasi alam yang kemudian
dikembangkan untuk memenuhi semua kebutuhan manusia. Pertumbuhan penduduk yang
pesat, perkembangan ekonomi, industri dan sektor-sektor lain yang kemudian
menyebabkan kebutuhan energi semakin meningkat tidak lantas menjadi masalah
untuk terus mensejahtera. Malah alasan inilah yang menjadi latar belakangnya.
Di sisi lain, alam semakin ditelanjangi. Siapa yang tidak iba melihat
hutan-hutan yang gundul? Atau habitat burung di suatu pulau yang mati akibat
memakan sampah plastik yang dibuang langsung ke laut. Ataukah lautan
lumpur yang tidak pernah berhenti keluar dari perut bumi akibat kesalahan pengeboran
minyak, hiu yang habitatnya terus berkurang akibat dijadikan santapan lezat
para orang kaya dengan dalih kandungan protein yang tinggi, logam-logam berat
yang konsentrasinya sudah melambung tinggi di atas ambang batas akibat limbah
industri yang dibuang begitu saja ke dalam perairan, atau simpelnya, siapa yang
merasa tidak gerah karena suhu bumi yang semakin meningkat akibat dampak
pemanasan global? Semuanya mendunia. Di negara maju, ataupun negara berkembang,
jika tidak segera dihentikan alam semesta akan jatuh sakit dan kerusakannya
akan semakin parah.
Alam semesta sebagai penopang hidup
manusia di bumi tidak serta merta diartikan bahwa dengan mudahnya boleh dirusak
dan dieksploitasi habis-habisan untuk terus mengenyangkan perut yang makin
membuncit. Bukankah kita berasal dari Pencipta yang Satu? Jika menilik kitab
suci, manusia adalah pemimpin atau khalifah di bumi. “Pemimpin” bukan
“penguasa”. Pemimpin adalah dia yang dengan bijak mengetahui harus bertindak
bagaimana dalam memimpin. Dalam hal ini, manusia ditunjuk sebagai makhluk yang
dengan kemuliaannya, tahu secara jelas hukum apa yang berlaku dalam peraduannya
dengan alam semesta, lantas menjadi bertanggung jawab terhadap keseimbangan
alam semesta.
Di sisi lain, teori ekologi dalam
menyebutkan bahwa manusia dan alam semesta adalah dua hal yang tidak
terpisahkan. Karena manusia adalah bagian dari alam semesta itu sendiri. Lihat
saja, kerusakan yang dibuat oleh manusia terhadap lingkungan akan memberi
dampak pada manusia itu sendiri. Membuang sampah di sungai, akan menyebabkan
banjir. Siapa yang kalang kabut ketika kasur, meja, dan lemari, serta
berkas-berkas penting menjadi basah bahkan terbawa air? Manusia juga kan?
Seorang teman pernah berkata, “hidup
kita ini bukanlah hanya tentang diri sendiri, namun diri ini adalah sekaligus
universal itu sendiri”. Kita jelas-jelas terhubung langsung dengan alam semesta
dan menjadi bagian dari alam semesta itu sendiri. Batu, pohon, air, dan
seluruh elemen dunia ini terkoneksi secara langsung dengan diri manusia.
Antroposentris sebenarnya tidak
salah. Kalau kata orang bijak, kebenaran tergantung pada bagaimana dan darimana
kita memandang.
Kebenaran antroposentris mungkin
adalah pada seluruh tanggung jawab penjagaan bumi secara sepenuhnya ada di
tangan manusia, dan karena manusia itu sendirilah yang paling banyak
memanfaatkan alam. Bukan pada pernyataan bahwa alam semesta ini berpusat pada
manusia sehingga semuanya ada untuk memenuhi kebutuhan manusia. Manusia layak
untuk hidup. Semesta pun demikian. Jika bukan manusia yang menjaga alam
semesta, lantas siapa lagi?
Alam semesta selalu setia
mengajarkan kita tentang kebaikan-kebaikan. Semoga setiap manusia sadar akan
hal itu, lantas berucap syukur dan berterimakasih pada alam semesta dan secara
mutlak pada Penciptanya.
Semoga kesadaran untuk selalu
berkawan dengan lingkungan selalu ada pada diri kita. Amin.
Arniati Labanni
(Anggota MICRO FMIPA Unhas)






0 komentar:
Posting Komentar